Senin, 20 Oktober 2014 merupakan sebuah sejarah baru bagi Indonesia. Pada hari itu, oasangan Jokowi-JK telah resmi dilantik presiden dan wakil presiden baru RI untuk periode 2014-2019.
Ada yang menarik dari pelantikan presiden kali ini. Bukan hanya sebuah sidang pelantikan yang dilakukan oleh para presiden-wakil presiden dan MPR terkait, pelantikan kali ini juga diiringi dengan sebuah pesta rakyat meriah yang disinyalir memakan biaya miliaran rupiah.
Euforia pelantikan Jokowi ini dimulai sejak pagi. Di seputar bundaran Hotel Indonesia dan arah jalan menuju Monas telah disediakan gerobak makanan dan minuman. Para penjual makanan dan minuman ini telah sehari sebelumnya dibayar oleh para relawan khusus untuk memeriahkan pesta rakyat ini, sehingga para pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman secara gratis.
Banyak juga tamu-tamu kenegaraan yang hadir dalam acara ini, diantaranya Perdana Menteri Brunei Darussalam HM Sultan Haji Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Australia Tony Abbott, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loon, Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Murray McCull, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond, dan lain-lainnya. Diperkirakan sekitar 17 perwakilan negara tetangga dan utusan khusus dipastikan hadir pada perhelatan ini.
Pesta rakyat ini juga dimeriahkan dengan konser musik band-band papan atas yang digelar di penggung akbar Monas sejak sore harinya hingga malam hari. Tidak tanggung-tanggung, hampir 200 musisi akan ambil bagian dalam kemeriahan konser musik ini. Termasuk di dalamnya Arkana, band asal Inggris yang khusus diundang oleh relawan untuk memeriahkan pelantikan presiden Jokowi.
Tentunya 'pesta rakyat' besar-besaran ini menjadi sorotan banyak pihak dan menuai banyak tanggapan baik pro maupun kontra. Banyak masyarakat yang menanggapi bahwa sah-sah saja mengerahkan pesta rakyat sebesar ini mengingat momen ini hanya ada lima tahun sekali dan unutk kepentingan rakyat juga. Namun, banyak juga yang mengritik dan menyayangkan pesta besar ini yang dinilai terlalu banyak hura-hura dan berdampak negatif bagi masyarakat. Selain itu, pesta ini juga menyisakan banyak sampah dan kerusakan pada tanaman-tanaman dan fasilitas umum akibat ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab.
Sungguh ironis, menurut saya, melihat sebuah pelantikan pemimpin bangsa yang akan mengemban tugas dan tanggung jawab berat untuk 5 tahun kedepan dirayakan dengan hura-hura dan pesta yang mengedepankan nafsu keduniawian mengingat betapa banyak sesungguhnya permasalahan dalam negeri ini yang belum terselesaikan. Apalagi ada berita yang melaporkan bahwa suasana pesta ini malah lebih seperti 'dugem' dengan adanya konser band-band dan iringan musik dari DJ.
Kepemimpinan merupakan suatu hal yang amat berat tanggung jawabnya di akhirat nanti. Memimpin Indonesia, negara kepulauan yang amat luat berpenduduk ratusan juta dengan segala perbedaannya tentu merupakan suatu hal yang tidak mudah. Masalah negeri ini amat kompleks dan telah lama menanti pemecahan. Akan lebih baik jika presiden terpilih segera mengambil kebijakan dan mulai bekerja, tidak terlena dengan segala euforia pelantikannya. Kita, sebagai rakyat hendaknya peduli pada kemajuan pembangunan negeri ini. Menjadi rakyat Indonesia yang aktif dalam memerhatikan dan mengkritisi kinerja pemerintah namun juga bertanggung jawab dan mendukung pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah. Juga mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta menghiindari perpecahan. Ini semua demi kedamaian dan ketentraman bangsa Indonesia, negara kita tercinta.