Selasa, 27 Mei 2014

Sejarah Singkat Samurai

Ya, karena di pelajaran sejarah semester 2 ini ada bab tentang restorasi meiji, Gia jadi tertarik mengulas tentang samurai B).
Selama ini, yang kita tahu, samurai itu prajurit jepang yang pake kimono terus bawa-bawa katana, kaya Kenshin gitu. Hehe. Tapi, gimana sih sejarahnya samurai?
Yap, kali ini Gia mau berbagi informasi tentang sejarah singkat samurai yang ada di  buku "The Swordless Samurai" yang ditulis oleh Kitami Masao. Buku yang menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Hideyoshi Toyotomi ini absolutely recommended buat temen-temen yang mau jadipemimpin. Sungguh inspiratif dan penuh nilai-nilai kehidupan!
Tapi, sekarang, Gia cuma mau mengulas tentang "Sejarah Singkat Samurai"... Check this out!

Sejarah Singkat Samurai
 Asal  mula kaum samurai dimulai pada keluarga Yamato, yang muncul sebagai klan terkuat di Jepang pada abad ketujuh Masehi. Kata samurai  berarti órang yang melayani' dan diberikan kepada mereka yang lahir di keluarga terhormat dan ditugaskan untuk menjaga anggota keluarga Kekaisaran. Falsafah pengabdian ini adalah akar dari keningratan samurai, baik dalam tatanan sosial maupun spiritual.
Pada akhirnya, keluarga Yamato kesulitan mempertahankan pemerintahan sentralisasi negara dan mulai 'mendelegasikan'tugas militer, administrasi, dan penarikan pajak kepada mantan-mantan pesaing yang berfungsi sebagai gubernur. Saat Yamato dan Pemerintahan Kekaisaran semakin lemah, gubernur-gubernur lokal malah semakin kuat. Akhirnya beberapa di antara mereka berevolusi menjadi daimyo, atau penguasa feodal yang menguasai teritori tertentu yang independen dari pemerintah pusat. Pada tahun 1185, Minamoto no Yoritomo, seorang pamnglima perang dari provinsi timur dan amsih punya hubungan darah dengan keluarga kaisar, membangun pemerintahan militer negara yang pertama, dan Jepang memasuki era feodal (1185-1867). Negara itu berada di bawah pemerintahan militer selama hampir tujuh ratus tahun.
Stabilitas negara yang dirintis Minamoto pada tahun 1185 tidak bertahan lama. Penguasa-penguasa militer datanf dan pergi silih berganti, dan pada tahun 1467 pemerintahan milter runtuh yang menyebabkan Jepang terjun dalam kekacauan. Maka dimulailah Zaman Perang Antar-Klan, abad berdarah ketika para panglima lokal saling bertarung untuk melindungi daerah kekuasaan. Mereka berusaha mengalahkan para pesaing  dengan menggunakan pembunuhan, aliansi politik, pernikahan antar-klan, saling mengadopsi anak, dan perang terbuka. Sekutu di antara para panglima perang selalu berubah-ubah. Di antara perebutan kekuasaan, bukan hal aneh bagi seorang daimyo untuk membunuh saudara bahkan orangtua sendiri.
Pada saat Jepang memasuki Zaman Perang Antar-Klan, istilah samurai telah berubah, menandakan tentara negara, perwira penjaga perdamaian, dan prajurit profesional: pendeknya, hampir siapa saja yang membawa pedang dan mampu melakukan kekerasan.
Meski Zaman Perang Antar-Klan membawa kekacauian, kekuasaan tetap sangat terstruktur dalam era feodal Jepang. Kaisar adalah penguasa tertinggi kepada siapa semua orang tunduk. namun fungsi-nya hampir hanay berupa simbol; kekuasaan kaisar sebenarnya hanya terbatas pada menganugerahkan gelar resmi, terutama gelar Shogun. Kaisar sangat bergantung pada para daimyo untuk membiayai anggaran istananya dan tidak turun langsung dalam urusan negara.
Kelas sosial yang dibawah kaisar adalah kaum bangsawan, termasuk para pangeran, putri, dan bawahan yang miliki hubungan darahn dengan kaisar. Mereka juga tidak terlibat dalam urusan negara dan bergantung pada warisan serta upeti dari para daimyo untuk membiayai rumah tangga mereka/.
Secara resmi berada dibawah kaum bangsaawan adalah Shogun, namun sebenarnya kaum bangsawan dan kaisar sendiri tidak memiliki otoritas terhadapnya. Pemegang komando militer tertinggi ini dapat disamakan dengan presiden atau perdana menteri, membuat keputusan administratif sehari-hari yang dibutuhkan untuk menjalankan negara.
Panglima perang, atau daimyo, berada pada urutan berikutnya. Beberapa daimyo adalah panglima andal yang membangun kerajaan-kerajaan kecil dari nol; beberapa adalah bekas gubernur yang menolak tunduk pada pemerintahan pusat dan sepenuhnya memiliki daerah sendiri;lainnya adalah bekas pengikut yang menggulingkan gubernur mereka yang tidak kompeten. Para daimyo mengatur kota yang tumbuh di sekitar kastil mereka dan mendapatkan penghasilan dari pajak yang ditarikl dari penduduk kota atau petani.
Samurai yang dipekerjakan oleh para dimyo menduduki tingkat sosial berikutnya. Orang-orang terbaik di kelompok kesatria abad pertengahna Jepang ini sangat menjunjung tinggi nilai Bushido (biasanya diterjemahkan sebagai 'semboyan kaum kesatria' atau 'jalan panglima'). Samurai yang terburuk tidak jauh berbeda dengan preman pasar.
Lapisan kelas sosial di abwah samurai adalah ronin,  atau samurai tanpa majikan. Ronin bisa saja dilahirkan dalam keluarga samurai yang beruntung atau menjadi pengangguran karena majikan mereka bangkrut atau menderuita kekalahan dalam peramg. Kaum ronin terdiri dari pejuang yang jujur dan para bajingan. Mereka adalah golongan sosial paling rendah yang berhak menyandang nama keluarga, sebuah kehormatan yang membedakan mereka dari rakyat jelata.
Di bawah ronin terdapat penduduk kota, pengrajin, pedagang, dan petani- masyarakat kelas pekerja yang merupakan mayoritas dari seluruh penduduk Jepang. Mereka tidak bergelar dan hanya menyandang satu nama (nama pertama). Mereka juga satu-satunya golongan masyarakat yang dikenai pajak.
Dari lapisan-lapisan kelas sosial ini, kaum samurai muncul sebagai figur sentral. yang berwarna-warni dalam sejarah Jepang.

Yap, sekian penuturan mengenai sejarah samurai dan kelas-kelas sosial di masyarakat Jepang jaman dulu. Semoga bermanfaat... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar